Cara Menghitung Omset Toko

Diposting pada

cara menghitung omset tokoCara Menghitung Omset Toko atau usaha – Banyak calon nasabah yang ingin mengajukan kredit ke bank, tetapi mereka banyak yang belum mengetahui tekhnik bank dalam menghitung omset usaha. Sehingga calon nasabah dengan semaunya mengajukan kredit dengan alasan “namanya juga pengajuan, ya bebas aja mau sebesar apapun”.
Mulai sekarang, anda jangan punya mindset seperti itu. Kenapa? Karena pihak bank akan memandang anda sebagai orang yang kurang matang dalam perhitungan resiko kredit.

Pertama hitung dulu berapa jumlah modal usaha atau stok barang usaha anda.

Beberapa bank ada yang menilai layaknya besar maximal pinjaman yang diajukan nasabah tidak melebihi modal pokok usahanya. Misalnya modal warung anda sebesar Rp 60.000.000 maka sebenarnya pinjaman modal usaha anda maximalnya ya sesua modal usaha. Tetapi tidak jadi patokan utama ya hanya salah satu faktor saja.

Yang ke dua, hitung dulu omset anda, agar anda mengetahui batas maksimal kemampuan membayar angsuran.

Saya akan kasih tahu Cara bank menghitung omset usaha anda agar pinjaman anda disetujui bank.
Misalnya anda mempunyai usaha warung kelontongan, hitung dulu semua pengeluarannya kemudian tentukan pendapatan bersih nya, sebagai contoh:

Omset (pendapatan kotor) perhari warung anda rp. 2.000.000 dg rincian sbb.
Modal pokok nya rp 700.00
Transportasi rp.15.000 per hari
Biaya hidup keluarga rp. 50.000 per hari
Listrik perhari rp. 10.000
Biaya anak sekolah rp. 10.000/hari
Biaya karyawan (kalo ada karyawan) rp. 35.000/hari
Jumlah pengeluaran harian rp. 1.900.000 jadi anda punya pendapatan bersih nya rp. 2.000.000-1.900.000 = 100.000/hari x 30 hari = 3.000.000 (bisa dijadikan maximal angsuran bank).
asumsinya angsuran 3.000.000/bulan itu bisa mendapatkan pinjaman rp 90.000.000, Kalo penghasilan bersih anda Rp. 3.000.000/bulan, anda jangan mengajukan pinjaman lebih dari 90.000.000.

Kemudian, anda kumpulkan semua bon atau nota belanja anda, sebagai bukti bahwa omset usaha anda benar adanya. Karena banyak sekali calon nasabah yang me-mark up omset atau omset usaha nya dibesarkan tanpa ada datanya dengan tujuan agar pohak bank percaya bahwa usaha nya besar dan sanggup membayar angsuran.
Pihak bank tidak akan percaya begitu saja tanpa ada data yang real. Jadi jangan sepelekan nota belanja anda. Saya kasih contoh yah.

Misalnya anda mengatakan omset usaha grosir kelontongan saya perhari Sebesar Rp. 5.000.000 dengan keuntungan bersih 500.000/hari (berarti keuntungan nya 10 persen). Tetapi setelah dilihat dari nota belanja anda total belanja nya rata2 perhari hanya rp. 2.000.000 saja. Dengan demikian, pihak bank hanya akan menghitumg omset anda dri sesuai data.

Berapapun omset anda sertakan bukti nota belanjanya.

Nah setelah anda mengetahui cara menghitumg omset usaha, sekarang anda sudahbisa menentukan berapa pinjaman yang layak anda ajukan dan dapatkan.
Semoga bermanfaat yah..

Gambar Gravatar
Soraya Utami adalah seorang penulis yang mempunyai pengalam di bidang perbankan selama 6 tahun dan menjalani profesi seorang marketing di salahsatu Bank Swasta di indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.